 |
Dinamika Gender Saudagar Perempuan Laweyan di hari Kartinian
Oleh Drs. Soedarmono, SU. Dosen Jur. Sejarah Fak. Sastra UNS
Halaman 1
Tulisan ini mencoba membedah fenomen sejarah lokal “saudagar “ Laweyan di kota Solo, pada awal abad ke-20. Sosok kampung industri dari sumber perdagangan batik yang pernah dikonsumsi masyarakat luas, lahir dari sana, dari ethos kaum perempuan Jawa, “mbok mase” Laweyan. Banyak pengamat yang gagal, atau setidaknya kurang pas menterjemahkan kehadiran mereka, untuk citra industri dan perdagangan klas menengah Jawa di zaman Kolonial. Bisa disebutkan berbagai masalah, karena keperempuannya, karena lokalitasnya, dan karena klas sosial-kulturalnya, maka sejarah local daerah itu hampir terhapus dalam percaturan sejarah ekonomi di era post-kolonial. Padahal di era zamannya, nilai ekonomi, politis dan kultural saudagar Laweyan tidak kalah penting memainkan peranannya dalam sejarah lokal raja-raja Mataram di Surakarta.
Penulis sangat tertarik pada sikap dan tingkah laku saudagar perempuan wong Laweyan, yang jejak masa lampaunya, setidaknya meninggalkan kesan agak aneh dan serasa ada keterasingan dengan lingkungan social masyarakat Jawa. Pengalaman berinteraksi social selama proses pergaulan dengan anak-anak komunitas Laweyan, memunculkan kesadaran untuk menangkap keganjilan dalam potret social-alienasi komunitas Laweyan. Mereka sangat asing, dimata penulis karena sebutan “wong” dagang, terasa diasingkan. Pada cerita rakyat lokal untuk menyebut nama “Laweyan” sebagai tempat eksekusi hukuman lawe, sudah terasa ada rekayasa nilai segregasi social. Lebih-lebih cerita tutur versi kerajaan yang memposisikan keturunan secara genealogis orang Laweyan sebagai gen “bau-laweyan”, terasa sangat menyakitkan dan memojokkan komunuitas itu pada dimensi social yang lebih luas dalam dinamika masyarakat kota Surakarta di era feudal.
Tiga folklor yang menjadikan komunitas Laweyan teralienasikan kedalam segregasi social itu, mendorong penulis untuk meluruskan sejarah, dari persepsi yang an-achronis, dan tidak disembunyikan dalam sejarah, yaitu etos kaum perempuan Jawa dalam pergumulan ekonomi klas menengah Jawa.
|
 |